Jumat, 04 Oktober 2019
Who am I ?
Aku dilahirkan di kota Kuala Simpang - Aceh pada tanggal 23 Agustus 1983.Menurut cerita nenekku dulu,orang tuaku memberi nama Siti Aisyah.Tapi sejak orang tua ku bercerai nama itu berganti menjadi Dewi Agustini.Entah siapa yang menggantinya,aku tidak punya informasi yang akurat.Ah...apalah arti sebuah nama,fikirku.
Yang aku tau,masa kecilku sangat buruk.Ternyata benar,kisah keluarga broken home itu sangat tragis seperti yang ku alami.Tinggal menumpang dari satu rumah saudara ke rumah saudara yang lain.Harus beradaptasi dengan situasi yang menurutku berat.Itu ku alami sejak usiaku sampai masuk usia sekolah (SD).Sudahlah,sebenarnya aku kurang suka menceritakan bagian-bagian ini.Air mata ku terlalu terasa murahan setiap kali aku harus menceritakannya.
Saat usiaku 7 tahun ayahku menikah lagi.Sejak itu kami tinggal menetap di sebuah rumah sederhana yang ayahku beli sendiri.Ayah masih tetap bekerja keluar kota seperti biasanya.Fix,aku tinggal dan diasuh oleh ibu tiri.Soal bagaimana kejam nya ibu tiri ku..hmmm...jangan kalian tanya.Aku berusaha jadi anak yang baik,meskipun tidak pernah mendapat pengakuan di mata ibu tiriku.Aku berusaha menerimanya.Karena aku tau,di depan masih banyak lagi ujian-ujian yang harus kulewati.Harus kuat,itu yang selalu bergumam di hatiku.
Cerita soal masa kecilku,sudahlah biar aku saja yang tau.Aku hanya menceritakannya sedikit.Ada cerita lain yang menurutku lebih layak ku bagikan.Tentang pendidikan formal ku yang berantakan.Tentang bagaimana aku menjalaninya.
Sejak SD aku termasuk anak yang selalu juara kelas.Hampir setiap caturwulan juara kelas itu tidak pernah absen.Bahkan juara umum pun sampai aku duduk di bangku SMA.Aku harus merasa bersyukur untuk itu,meskipun aku hidup dalam keadaan yang hampir jauh dari kata bahagia,aku tetap bisa juara kelas.
Aku dulu punya cita-cita,suatu hari aku bisa lulus sarjana dan menjadi pengusaha yang sukses,yang banyak duit,bisa bantu orang lain,dsb.Tamat SMA aku masuk PTN di kota Medan melaui jalur PMDK.TIdak ada 1 orang pun yang mendukung kuliahku waktu itu selain ayahku.Tapi ayah jauh merantau di luar kota.Itu yang membuatku bingung.Ibu tiriku mentah-mentah menolak aku untuk kuliah.Alasannya sangat konyol,karena ibu tiriku tidak mau dia kekurangan jatah uang bulanan dari ayah karena membiayaiku kuliah.
Semua kujalani dengan berat selama 3 semester.Harus bergelut dengan keadaan.Bukan soal financial,tapi ini soal keributan-keributan dalam keluarga kami.Tanpa kusadari,aku menjadi sosok yang keras,dan pemarah.Aku selalu gampang emosi.
Aku cuma bisa bertahan kuliah di semester 3.Aku merasa nggak kuat lagi karena ibu tiriku terus menerus mempermasalahkan kuliahku.Aku pindah ke kota P,kota dimana ayahku bekerja.Awalnya aku ingin mencari pekerjaan,atau apalah.Tapi ayah malah memintaku untuk kursus menjahit.Aku tidak suka menjahit.Aku menolak permintaan ayahku.Aku sempat mengutarakan keinginanku pada ayah,kalau aku ingin melanjutkan kuliahku di kota P.Tapi ayah waktu itu sedang mengalami krisis keuangan.Ayah minta aku menunggu untuk waktu yang tidak tau kapan.Dalam masa menunggu itu ( 8 bulan ),ada keributan dalam keluarga kami.Aku cukup stress waktu itu.Aku pun kabur dari rumah tanpa tujuan.Aku punya seorang teman,sebut saja namanya Tini.Tini mengajakku bekerja disebuah toko kelontong.Tapi aku cuma bisa bertahan selama 4 bulan.Aku malah berfikir sebaiknya aku nikah aja.Keputusan konyol yang datang karena aku merasa lelah.
Ada rasa sakit yang teramat dalam di lubuk hatiku,disaat aku harus menutup akses tentang cita-citaku.Aku terus meratap hampir setiap malam.Pernikahan yang tidak kulandasi apa-apa justru membuatku semakin down.Aku bersumpah tidak akan lagi mengingat atau menginginkan soal pendidikanku.Aku harus mendedikasikan hidupku untuk anak-anakku.Karena aku tau,anak-anakku punya masa depan yang harus kuperjuangkan,jangan sampai seperti aku.
Aku ibu rumah tangga biasa,dengan kehidupan ekonomi yang sederhana.Bahkan bisa dibilang pas-pasan.Semua berjalan normal meskipun tak mulus.Tapi di akhir 2015,suatu malam aku bermimpi.Rasa-rasanya aku masih kuliah.Mimpi itu terus menghantuiku.Ada rasa rindu belajar kembali.Rasa yang begitu membuncah.Tapi aku pendam.Aku duit dari mana untuk kuliah,fikirku.Lagi pula untuk apa juga,usiaku kan sudah nggak muda lagi,Untuk apa juga.
Tapi rasa itu terus mengganggu,aku coba beranikan diri bicara sama suami.Awalnya suamiku tertawa,kenapa baru sekarang,katanya.Aku merasa malu dengan tanggapannya.Suamiku bilang,kita uang dari mana,sedangkan kuliah itu butuh uang yang besar,jangan sampai anak-anak sekolahnya terganggu.Iya juga sih,fikirku.
Suatu hari,salah seorang guru anakku datang kerumah.Menawarkan kuliah di universitas Lancang Kuning karena ada program beasiswa.Wah,sesaat aku tertegun,apa ini.Apa ini yang dinamakan The Second Oppurtunity.Aku coba bicara sama suami,bagaimana.Suamiku merespon dengan sangat baik.Suamiku bertanya apakah aku yakin,apakah aku mampu belajar kembali di usiaku yang tidak lagi muda.Aku jawab sekenanya.Aku akan coba.Dan suamiku mengizinkan.Aku pun kuliah kembali dan harus bersaing dengan anak-anak muda.Hahahhha.
Aku berusaha membangun kekuatan belajar ku kembali.Meskipun aku sadar,itu tidak mudah.Bagaimana pun zaman telah berubah.Tekhnologi sangat berperan saat ini.Tapi insyaallah,aku akan berusaha sebaik mungkin.Aku belajar untuk diriku dan untuk anak-anakku.Ilmu yang menjadi target utamaku,sedangkan gelar akademik,adalah target kedua yang harus kuselesaikan untuk jerih payah kerja suamiku.
Semoga tulisan ini bisa menginspirasi siapa saja yang membacanya.Belajar itu wajib,membagikan ilmu pada orang lain juga wajib.So,do your best always.Keep struggle even you was old.Fastabiqul khoirot.Selamat berjuang para pencari ilmu.
Langganan:
Komentar (Atom)

